Semua orang pasti suka bermain. Games di gadget telah menjadi sarana hiburan bagi segala umur. Entah dewasa atau anak-anak, tua atau muda, kecil maupun besar semuanya senang bermain games. Namun, apakah teman-teman tahu perbedaan video games di zaman dahulu dan zaman sekarang ini? Pastinya para gamers A.K.A pemain sekaligus pecinta games sekalian tahu kan. Yap, perbedaan paling mencolok dapat dilihat dari tampilan gamesnya alias tampilan grafisnya.
Zaman dulu, grafis game hanya mencapai 8-bit saja contohnya game Arcade. Namun, zaman sekarang grafis dari tiap-tiap game sudah sangat meningkat pesat. Contohnya ialah game Triple A (AAA) yang memiliki kualitas serta pengalaman bermain sangat mengagumkan. Game tersebut memiliki tampilan grafis tinggi (bahkan mencapai 3D mirip environment dunia nyata) agar dapat memuaskan para pemainnya. Tetapi, apakah kalian tahu bagaimana sih grafis game yang bagus dan mengagumkan tersebut dibuat? Mari kita simak bersama!
Mengenal Teknologi Photorealistic
Bagi yang belum mengenal photorealistic, photorealistic merupakan sebuah konsep menyusun ulang suatu desain fotografi menjadi suatu karya berkualitas tinggi hingga mencapai suatu motif hiperrealisme alias terlihat sangat nyata. Pada awalnya, photorealistic atau photorealism merupakan konsep genre karya seni. Sekarang, konsep tersebut diimplementasikan dalam dunia games. Dengan kombinasi teknologi digital, photorealistic dapat dijadikan sebagai teknologi pembangun tampilan grafis suatu games secara hiperrealisme.
Engine untuk membangun game dengan teknologi photorealistic biasanya adalah Unreal ataupun Unity. Kedua platform penyedia game engine tersebut dapat menyajikan game dengan ultra graphic quality. Ultra graphic quality tersebut akan memanjakan mata para gamers dengan grafisnya yang super ultra.
Cara Membangun Game Dengan Kombinasi Photorealistic
Agar dapat menghasilkan game dengan grafis ultra, kita memerlukan desain hiperrealisme. Hiperrealisme dapat kita capai dengan menggunakan konsep photorealistic. Berikut tahapan membangun game dengan kombinasi photorealistic agar dapat menghasilkan grafis yang ultra-realistic pula:
1. Riset serta Penyusunan Konsep Dasar
Di tahap tersebut, ide konsep, objektif/target, audiens, teknologi, platform serta konsep-konsep lainnya diriset dan dirumuskan. Berbagai basic aspek ditentukan pada tahap ini, jadi ini merupakan tahap terpenting dalam pembangunan games.
2. Perumusan Alur Gameplay
Di tahap ini, para game designer akan mendesain serta merumuskan bagaimana alur permainan dari game yang telah dirumuskan. Berbagai game mechanic yang diperlukan di siapkan melalui tahap tersebut. Baik itu, rules, story flow, pattern, ataupun mekanisme permainan lainnya. Kesan Gameplay disini juga sangat perlu diperhatikan agar dapat memberikan kualitas serta pengalaman menyenangkan bagi para pemain.
3. Menyusun Asset serta Design Game
Ini adalah tahapan penting yang melibatkan konsep teknologi photorealistic dalam pembangunan game. Pada tahap tersebut, para game designer fokus kepada penyusunan aset game, karakter permainan, serta lingkungan dunia gamenya. Teknik photorealistic akan menyusun ulang semua desain aset dunia game yang dibuat agar terbentuk kembali dengan tekstur yang realistis. Apabila dikombinasikan dengan fitur Ray-Tracing pada RTX pastinya tekstur grafis yang diberikan akan terlihat lebih smooth lagi. Setiap level akan didesign dengan environment berbeda-beda sesuai dengan rancangan konsep awal yang ditentukan. Semuanya difortifikasi dengan photorealistic.
4. Test play (prototype)
Di tahap berikut ini, game sudah melalui tahap pendesainan. Alur game awal beserta environment-nya sudah dapat di uji coba (prototyping) agar dapat merasakan sensasi first-time playing this. Tahapan ini pula menjadi gambaran umum bagi para game developer untuk mengembangkan gamenya agar lebih sempurna lagi. Testing hasil desain photorealistic yang disusun pada tahap sebelumnya akan dilakukan di tahap ini.
5. Development
Pada tahap berikut, semua gambaran umum permainan telah disusun dan akan dikembangkan lebih lanjut agar dapat berlaku sebagaimana mestinya. Setiap aset, mekanisme, struktur dan elemen permainan akan digabungkan serta dikembangkan bersama engine. Engine yang digunakan bervariasi tergantung dari kesepakatan team developer. Umumnya, Unreal Engine dapat digunakan untuk mencetak game dengan grafis berkonsep photorealistic. Namun, Unity saat ini telah membuktikan dirinya juga mampu memberikan engine terbaik bagi game bergrafis photorealistic.
6. Beta test (UX Balancing)
Game telah mencapai 95% capaian pembangunan. Pada tahap berikut, game akan diluncurkan sebagai beta test agar dapat menganalisis user experience dalam memainkan game tersebut. Selain itu, peluncuran tahap beta akan membantu developer menemukan titik kesalahan teknis alias bug dalam permainannya.
7. Perilisan Game
Game telah mencapai 100% pengembangan. Game telah dirilis ke publik baik dengan lisensi berbayar ataupun tidak. Tujuan lisensi berbayar agar menghindari adanya aktivitas pembajakan. Umumnya, game yang telah dirilis akan terus di-update agar dapat memberikan performa semaksimal mungkin bagi pemainnya.


Comments
Post a Comment